Wednesday, March 02, 2005

Malam di Malang. dari Sudut Jalan Veteran

"Idjen Boulevard". Begitu, dulu Karsten menyebutnya. Jalan itu besar; dibagi menjadi dua jalan kembar, dan terbentang panjang. Di tengahnya, - antara dua jalan – taman dengan rumput hijau dan tumbuhan bunga-bunga, dibangun mengikuti sepanjang jalan. Trotoar di tepi dua jalan, begitu lebar. Hingga pohon palem tumbuh tinggi menjulang, dan bisa di tanam berjajar; juga sepanjang jalan. Rimbunan daunnya seperti menawarkan kesejukan bagi banyak orang, untuk berjalan melintasinya. Ir. Herman Thomas Karsten, memang seorang planolog, juga arsitek.

"Idjen Boulevard". Begitu, dulu meneer dan mavrow menjawabnya. Untuk satu tempat nyaman, berakhir pekan di Malang. Rumah bergaya Eropa, banyak berdiri di sana, menghadap ke jalan. Setiap akhir minggu, pagi harinya, mereka beramai-ramai berjalan menelusuri jalan, sambil menghirup udara segar, pada suhu 19O C. Malamnya, alunan musik klasik terdengar mengiringi gerak dansa.

Ya… para sinyo dan noni ini tengah berpesta kebun. Menenangkan otak dan syaraf, setelah lelah seminggu bekerja di kebun."Idjen Boulevard, di jaman kompeni memang untuk peristirahatan orang Belanda yang bekerja di perkebunan". Begitu, tutur Pak Ichsan (Prof.Drs.H.M.A). Beliau tahu persis perkembangan Kota Malang. Beliaupun mantan Rektor Universitas Negeri Malang (dahulu IKIP Malang).

Kini Belanda telah pergi. Pribumi telah merdeka di pertiwi sendiri. Dan Term kebudayaan jangan lagi dilihat secara an sich. Bukan pula untuk diperdebatkan perihal hakikatnya secara definitif ; "sebagai kata kerja atau malah kata benda?". Kebudayaan Malang, harus dilihat dari deretan para pendukung dan aktornya, hari ini.

"Jalan Ijen". Begitulah, sekarang penyebutannya. Fonem ejaan telah disempurnakaan. Tapi masih seperti dulu, jalan itu. Hanya rumah-rumah, tengah berganti gaya. Pesta dansa tidak lagi ada. Pagar rumah-rumah, tinggi-tinggi menjulang, menutupi pandangan mata. Sepi !!!, kesannya. Lalu lalang bukan lagi dengan berjalan. Berganti mobil motor dengan asapnya yang kotor. Lalu, apa yang bisa dirasakan pada udara bersuhu 27O C ? Tentunya bukan lagi kesejukan

Pestanya bubar ??? Belum !!!--- OOO ---Pergilah suatu sore, telusuri Jalan Ijen lalu tembus Jalan Veteran. Di sanalah pestanya berpindah. Dengan generasi berbeda dan gaya budaya yang lain. Tenda-tenda kain berdiri sementara, di kanan kiri jalan. Meja kecil berjajar menutupi hampir seluruh trotoar, di kiri dan kanan jalan. Obor kecil dari botol dipasang, dan menyala mengikuti panjang dan lekuk jalan. Dan saat hari gelap; satu persatu mereka datang. Kadang sendirian, kadang pula rombongan. Tetapi yang paling sering adalah pasangan yang datang berduaan.

Mereka kebanyakan mahasiswa."Turis Akademis". Begitu, seorang sosiolog pernah menyebut mahasiswa. Mereka datang dengan membawa kekayaan ke negeri orang, menetap lama, lalu berbelanja. Ya… mereka datang untuk belajar (kuliah), tetapi paling hanya 5-6 dari 24 jam sehari waktu mereka. Sisa waktu berikutnya, tergantung kekuatan modal yang mereka bawa/punya.Mereka bisa clubbing bersama DJ ibukota, atau ikuti Tequilla Girls sampai pagi di Hugo's. Atau bisa juga nimbrung saat Lady's Night di Laguna Diskotik. Atau pula memilih suasana sepi, dengan berdiam di dalam Mandala, bioskop 21. Atau, di rumah saja; bersenda dan bercanda dengan teman-teman, ngegosip, belajar, atau nonton TV semalaman.

Mau lebih jauh lagi, bisa juga nongkrong diketinggian Bukit Payung. Menatap Malang di waktu petang. Melepaskan pandang pada gugusan pegunungan dan perbukitan, yang seolah tengah merangkul manusia di bawahnya. Dari Gunung Arjuno, Gunung Welirang dan Gunung Anjasmara di sisi utara, terangkai bersambung ke sebelah barat dengan Perbukitan Panderman, Gunung Kawi dan Gunung Kelud. Di sebelah selatan berbaris pegunungan kapur Kendeng dan berjejer ke sebelah timur sampai pada kompleks Gunung Mahameru, Gunung Widodaren dan Gunung Bromo dengan Tenggernya.

"Di sana, orang bersaing mencari kekayaan dan kekuasaan. Mereka seringkali menganggap kami yang hidup di sini, miskin dan buta politik. Tapi kami merasa lebih bahagia ketimbang mereka.". Begitu, kata Aquillas. Saat dia berdiri di atas Gunung El Roble, dan menuding ke arah kota 20 Km di bawahnya; Santiago, Chile. Ah, sudahlah … kekuasaan dan kekayaan memang seperti tebaran lampu kota yang menakjubkan

.--- OOO ---

Atau, pergi sajalah ke Jalan Veteran. Di sana akan ada air putih, teh, kopi dari banyak merk, makanan beraneka menu; lalapan atau gorengan. Di sana ada keramaian. Sebab, trotoar akan penuh oleh orang, dari sore hingga tengah malam. Ada sudut serius. Di mana bergerombol banyak orang, duduk melingkar seperti hendak berdiskusi. Seseorang, sepertinya senior, sedang bicara dengan banyak gerak tangan. Yang lain, seperti mendengarkan. Walau mata tak kuasa memandang yang tengah berlalu lalang. Tanganpun berulang berkai-kali mencicipi pesanan, mumpung gratis. Kalau sudah begini, pengamenpun tidak ingin mendekati.

Kakak senior itu bercerita; dia pernah berdemonstrasi di jalanan ini : Jalan Veteran. Bersama ratusan kawan-kawan mahasiswa, dengan satu tekad : LAWAN. Polisi datang bersenjata, menolak segala rencana negoisasi. Batupun kemudian dilemparkan, kerumunan hingga buyar. Tembakkan dilesakkan, menembus dinding-dinding dan bangunan. Ada jatuh korban. Tapi menjadikan munculnya satu kekuatan basis massa. Di kanan Universitas Brawijaya, kiri Universitas Negeri Malang dan Universitas Muhammadiyah, di barat Institut Teknologi Nasional. Dari kejauhan, puluhan kawan-kawan Universitas Islam Negeri (dahulu STAIN) dan Universitas Merdeka, tengah datang mendekat, bersolidaritas. Semuanya berkumpul menjadi satu di sini; Jalan Veteran.

Di sudut lain; pemuda-pemuda duduk berjajar, menghadap ke jalan. Berharap rezeki Tuhan bisa datang ; seseorang, yang bisa diajak berkenalan, tukar-tukaran nomor telepon, telepon-teleponan trus pacaran. Oh… entah sudah berapa malam, pemuda-pemuda itu duduk berjajar, menghadap ke jalan. Melihati kerumunan bikers yang tengah bersiap ngeber mesin habis-habisan. Biasanya, balapan ini adanya sore hari hingga malam menjelang atau lebih cepat, kalau mobil patroli sudah lewat, melintasi Jalan Veteran.

Tidak jauh, di sudut yang lain; seorang cowok sendirian. Duduk sendiri menghadap satu meja tanpa kursi. Dia makan dan banyak pesan. Minum telah berkali-kali, begitu lama. Sebab, film yang diputar dalam TV lewat VCD Player dan pemancar, belum berakhir. Sepertinya dia akan terus melihat akhir film ini, sebab dia tengah memesan minuman lagi. Namun konsentrasinya buyar, kala café di sebelah, memutar musik dari sebuah tape dengan begitu kencangnya.

Terakhir, pada suatu sudut; ada pasangan berdua. Tidak terlalu menarik membincangnya. Sebab; aktivitasnya tidak jauh dari duduk seperti romantis, ngobrol sesuatu yang indah, berbagi kesetiaan hingga tangan saling berangkulan atau makan minum bersuap-suapan. Kalau sudah begini, pengamen bisa datang berkali-kali, sebab keduanya pasti akan memberi; juga berkali-kali.

Sayang, saat datang terakhir, pengamen itu sepertinya salah menyanyikan lagu, sehingga menyinggung lelaki dari pasangan ini. Tidak lagi dibayar, malah keduanya beranjak keluar, lalu pergi.Lagu itu memang tidak begitu populer. Seperti-nya sebuah parodi, berjudul Mahasiswa Rantau. Dibawakan grup alternatif dari Bandung; Pemuda Harapan Bangsa. Dari jauh, sayup terdengar potongan liriknya:

Mahasiswa rantau / Makan tak teraturSenin makan / Selasa PuasaRabu ngutang / Eh … Kamis di bayarJum'at laper lagi / Sabtu makan lagiMinggu ngutang lagi / Senin balik lagi(Musik)Rambut metal gondrong / Celananya bolongJarang makan / Apalagi jajanPacar tiada / Uangpun tak punyaNgutang di mana – mana / Aku ingin bebas…..

--- OOO ---

"Oen". Begitu, kata banyak orang di Malang. Menyebut tempat, kini para meneer dan mevrow kongkow; no party. Sebuah toko roti dan ice cream, di satu sudut jalan di pusat kota. Bangunannya masih nampak lama, meja kursi dari kayu bergagang besi seperti mengajak mereka untuk duduk kembali; mengenang dan membincang Malang, di era nenek moyang. Pada gedung Societet Concordia bergaya Indische Empire, yang persis berseberangan dengan Oen. Di gedung itu, pernah dipakai Sidang I KNIP di tahun 1947. Meski sekarang berganti menjadi kompleks Pertokoan Sarinah. Pada bangunan Loji yang didirikan sebagai benteng pertahanan Belanda. Kini beralih fungsi sebagai Rumah Sakit Umum Saiful Anwar (RSSA).

Daerah di sekitarnya dinamakan Kalojian, selanjutnya dikenal sebagai Klojen.Teringat pada kisah di tahun 1861, saat Gereja Kristen EMMANUEL dibangun, di Jalan Merdeka Barat. Di susul 1875, Masjid Jami' Malang didirikan di sebelah barat alun-alun. Sementara umat Katholik membangun Gereja Katholik Hati Kudus Yesus di daerah Kayu Tangan, pada 1896. Juga Klenteng di sebelah timur Pasar Besar pada tahun 1904, atas prakarsa Kwee Sam Hway.

Masuk abad 20, di tahun 1929, sarana pendidikan diawali dengan pembangunan SMU Tugu di sebelah utara alun-alun bunder. Lengkap dengan penunjang transportasi, dengan membangun Stasiun Kota Baru ditahun 1939. Terakhir, yang akan mereka ingat, bahwa nenek moyang bangsa Belanda, membangun Stasiun Radio bernama NIROM. Sekarang berubah menjadi RRI yang berpindah di Jalan Candi Panggung, Kelurahan Jatimulyo Lowokwaru

.--- OOO ---

Jalan Veteran sudah sepi, malam tinggal menunggu pagi. Dua orang ibu paruh baya berdiri di trotoar, menenteng keranjang. Sebuah mobil angkutan kota berhenti, lalu membawa keduanya untuk pergi. Pagi itu, tentunya masih ada pesta lagi; di pasar !!!.